Connecting Bataks and Indonesians in General

Amir Sjarifoeddin dan Kharisma Seorang Nasionalis (III-tamat)

Kemunculan Kembali dalam Dunia Politik

Adalah sesuatu yang lebih reflektif ketika Amir keluar dari penjara pada pertengahan 1935. Dalam rivalitas melawan kepopulisan Soekarno, yang memercayai agregasi kekuatan menggunakan ideologi, dan ekonom Hatta, yang menyebut ideologinya ‘mimpi kesurgawian’, dalam keadaan itu dan pendiriannya membawa Amir berada pada pihak yang sama dengan Soekarno. Akan tetapi kegelisahannya tentang fasisme terkadang membuatnya khawatir bahwa elemen itu akan direprestasi dalam ideology politik rekan-rekan sesame aktivis. Petunjuk tentang kekhawatiran itu dapat dilacak dalam artikel-artikel yang ditulisnya untuk Poedjangga Baroe.

Dalam kontempelasi Genosida melawan Yahudi, Sjarifoeddin mengutip sosiolog konservatif, Gustave Le Bon (1897), mengapa kekacauan disebabkan moral yang tercela. Le Bon tmenjawab kekacauan secara intelektual selalu, dan terkadang secara moral, individu yang inferior (rendah). Amir sepakat bahwa ini adalah analisis yan kuat dan implikasinya adalah semua golongan populis berada dalam sebuah problematika. Desakannya bahwa terror Nazi adalah sebuah kerja dari jenis khusus dari kekacauan , kekacauan kecil, dan yang dapat dipertentangkan dengan masa yang besar dari masyarakat Jerman, yang sama sekali tidak dapat memecahkan masalah tersebut.

Butuh sekitar dua tahun untuk mengembalikan kegiatan aktivis politik Amir. Pada Mei 1937, delapan bulan setelah pergantian Gubernur Jenderal yang represif De Jonge oleh Tjarda van Strarkenborgh Stachouver, ia bergabung dengan sejumlah anggota ex- Partindo untuk mendirikan Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia). Soekarno dan rivalnya Hatta masih berada dalam pembuangan sampai dengan masa Pendudukan Jepang yang membebaskan mereka.

Di balik layer, Gerindo diprakarsai oleh Yamin dan Amir, yang tetap beranggotakan sebagian besar nasionalis kiri. Dalam prakteknya, Gerindo banyak digerakan oleh generasi baru, seperti mahasiswa sekolah kedokteran asal Minangkabau, A.K. Gani, dan murid Soekarno, Asamara Hadi. Organisasi ini bukan saja merupakan tempat berkumpul golongan kiri, tetapi juga mencakup golongan dan jaringan yang beragam. Hal ini memperkuat kontak dengan beberapa serikat pekerja dan perkumpulan pelajar. Amir sekali lagi mengambil bagian dalam bidang pers dan pendidikan (Pooeze 1982 :-94 , IV : xxv-xxvii, 158).

Gerindo sejak awal telah meninggalkan sikap non-kooperatif terhadap pemerintah sebagai suatu kesalahan, sesuatu yang bertahun-tahun lebih awal ditujukkan oleh Hatta. Bagaimanapun, hal ini secara natural bertentangan dengan pendirian Parindra di mana golongan kiri akhirnya masuk ke dalam realita. Sikap represi sejak awal tahun 1930-an, di tengah krisis ekonomi dan tindakan non-kooperatif adalah suatu fase yang memungkinkan terciptanya solidaritas di tenganh penderitaan.

Dalam kongres I pada pertengahan 1938 slogan spanduk yang menjemuk tertulis “moderen kooperasi”, dan perkataan Amir “oposisi loyal”. Sekarang tujuan pergerakan bukan ‘kemerdekaan’, tetapi ‘demokrasi’ dan diperbolehkan berpartisipasi dalam berbagai institusi colonial. Gerindo memberikan kemerdekaan eksplisit untuk beroperasi, walaupun terdapat anggota eks-Partindo ,dengan kebijakan-kebijakan rahasia pemerintah pada Agustus 193.

Dalam kongres kedua di Palembang, Sumatera Selatan pada Juli 1939, adalah titik penting bagi kehadiran AMir dalam organisasi kaum pergerakan nasionalis sebelum perang. Di tengah publikasi yang luas, ia terpilih menjadi eksekutif presiden. Tokoh sentral lainnya adalah A.K. Gani (Ketua Dewan Pengurus_, dan Tabrani Notosedirjo (Sekretaris). Wikana menjadi pejabat penting lainnya. Dalam foto, Amir digambarkan sedikit gemuk, percaya diri, dan terlihat serius dengan bingkai hitam kacamatanya. Ia menyampaikan dua pokok permasalahan. Banyak pujian yang dialamatkan kepadanya pada waktu itu mengingatkan bahwa charisma di antara kepercayaan yang membesar. Ia menyampaikan visi sosial democrat politik Indonesia dalam hubungannya dengan dunia. Amir berkata, “perjuangan antara demokrasi dan kediktatoran”. Hal ini bukan lagi perjuangan antara barat dan timur, sejak ‘kediktatoran’ muncul di banyak negara di Eropa (seperti Austria dan Czechoslovakia) seperti juga yang terjadi di Timur (Cina pada masa pendudukan Jepang) (Sjarifoeddin,1939a).

Amir memunculkan isu keindonesiaan, dengan bertanya mengapa tidak memasukkan golongan non pribumi Cina, Arab, atau Indo-Eropa (Sjarifoeddin 1939b). Hal ini adalah loncatan emosi yang menghasilkan oposisi yang kuat. Sebelum Perang Dunia I, E.F.E. Douwes Dekker telah mendefiniskan kewarganegaraan Hindia yang inklusif. Akan tetapi segera, teriakan tentang masalah rasial mendominasi diskursus kaum nasionalis, yang merefleksikan pembagian rasialis yang mendalam dalam masyarakat colonial. Sekarang, Amir berpendapat,’ sebagai partai pelopor, Gerindo dapat sekali lagi mendefinisikan istilah Indonesia dalam istilah politik yang dinamis, diartikan bukan dengan darah, tetapi kepentingan umum yang ideal, kepentingan bersama, keinginan umum yang mengikuti cita-cita ideal tersebut’. Swiss dan Amerika dijadikannya sebagai contoh.

Tanpa menampakkan asal-usul keinjilannya, Amir mengutip perumpamaan tentang orang Samaria yang baik, yang diadaptasi dari sebuah ‘dongeng’. Hal tersebut mengajarkan pada para pelajar bahwa ‘persaudaraan sejatinnya’ tidak datang dari pedagang-pedagang kaya dari masyarakatnya, tetapi ‘orang miskin dan rendah dari ras yang tidak diketahui. Kaum non-pribumi Indonesia juga mendapatkan pencabutan hak tersebut―baik kaum susah ataupun kaum senang. Mereka hendaknya disambut sebagai tamu ketika mereka mengetuk pintu, kata Amir. Tidak tanpa kontroversi, gerakan ini disetujui. Sejumlah golongan Cina kiri bergabung dalam Geriondo (Liem Koen Hian termasuk di antara mereka).

Lawan politik Gerindo bukan lagi kelompok Hatta tetapi partai yang sedang berkembang pesat Parindra yang dipimpin orang Surabaya Dr. Soetomo dan anggota VolksraadBatavia, M.H. Thamrin. Parindra dibentuk pada akhir 1935 dari dua partai kelas menengah dan partai priyayi birokrat kelas rendah, dan mengadvokasi masalah sosial untuk ekonomi pribumi yang mandiri dibandingkan agitasi politik. Partai ini mempromosikan sikapkooperatif dan mengusahakan beberapa sekolah, dan memiliki sebuah bank dan bisnis pribumi lainnya.

Oleh karena pembandingan yang konstan, yang tentu saja dan di dalam kesamaan dengan Parindra, Gerindo menemukan berbagai hal penting yang perlu digarisbawahi dalam perbedaan tersebut. Gerindo adalah partai kaum susah, lawan dari kaum senang, yang diproklamirkan Yamin dalam kongres pertama. Konstitusi tersebut mengatakan bahwa hal tersebut diharapkan dapat bergerak ke tengah atmosfir kaum nasionalis dari kota menuju daerah pingiran. Akan tetapi ketika hal tersebut bersingungan denga serikat-serikat petani (Sarekat Tani), hal tersebut menyerupai Parindra, yang melakukan hal yang sama pula.

Gerindo berharap bekerja dalam parlemen, kata Yamin dalam kongres pertama. Program desentralisasi pemerintah di luar Jawa pada dasarnya adalah demokrasi dan memungkinkan peranan para nasionalis.

Penasehat pemerintah dalam urusan Pribumi, G.F. Pijper tidak yakin pencitraan-diri sesuai dengan kenyataan. Ia meragukan jika sebuah kaum wanita tua terpelajar dalam kongres tersebut dapat mengikuti bahasa-bahasa jargon yang dipakai. Pijper berkomentarsetelah kongres kedua pada Juli 1939, Gerindo adalah ‘sebuah partai populer (volkspartij)dengan sejumlah prinsip dan slogan sosial-demokrasi, sejumlah intelektual sebagai pemimpinnya, tetapi dengan syarat-syarat perjuangan kelas yang membuat keinginan keras untuk kemerdekaan nasional menjadi masalah yang sekunder.

Sejalan dengan Parindra, para pemimpin Parindra juga mengusahakan pemberian dana kepada bank-bank pribumi dan pengiriman. Pada saat penangkapannya di akhir 1940, Amir Sjarifoeddin bekerja sebagai komisioner di Bank Effendi, bersalam dengan seorang nasionalisslainnya yang juga pedagang kaya A.A. Maramis. Nama bank tersebut berasala dari seorang pemiliknya Suleman Effendi. Amir juga bekerja di Paketvaart Bond (IPO 1940 :560, yang dikutip dari Hong Po, 3-7-1940).

Gerindo dan Parindra bekerja sangat dekat. Akan tetapi, pada pertengahan 1938, menolak untuk bergabung dalam paying organisasi kesatuan Bapeppi, yang terdiri dari Parindra, Pasoendan, dan PSII yang terlalu konservatif. Akan tetapi kemudian Amir dengan senang hati duduk dalam sebuah komite yang mempromosikan Petisi Soetarjo yang mengusulkan secara bertahap, peralihan konsitusi kekuasaan pada Indonesia.

Pada Mei, 1939, sebagai bagian dari kampanye berikutnya tetang ‘Indonesia berparlemen’ bergabung dalam formasi bentukan Parindra Gaboengan Politik Indonesia (GAPI). Amir mewakili Gerindo, sementara Thamrin mewakili Parindra. Amir bekerjasama dengan Thamrin dan pimpinan PSII Abikoesno Tjokrosoejoso untuk mengorganisasi Kongres Ra’jat yang disponsori GAPI pada Desember di tahun yang sama. Pada momen tersebut pers Indoesia melihat trio Thamrin-Sjarifoeddin-Abikoesno, anggota eksekutif GAPI, sebagai ‘pemimpin’ dari pergerakan nasional.

Gerindo ikut serta dalam pemilihan kota dan volksraad , di mana mereka berkompetisi merebut suara dengan Parindra, yang sayangnya tanpa hasil. Seperti Yamin, Amir mendapat dukungan dari masyarakat konservatif dari Sumatera. Tidak seperti Yamin yang berhasil terpilih sebagai anggota Volksraad untuk wilayah Minangkabau, seorang Editor dari Tapanuli berharap di Januari 1940 bahwa Amir, dengan pencitraannya sebagai seorang nasional yang dipercaya dan tanpa cela, mau dibujuk untuk masuk Volksraaduntuk mewakili kampung halamannya.

Dengan berbagai sifatnya yang kooperatif, Gerindo tetap diwaspadai oleh pemerintah. Berbagai alasan yang diterangkan dalam sebuah laporan tentang Gerindo oleh Gubernur Jawa Timur Ch.O. van der Plas. Tidak seperti Parindra yang merupakan sebuah partai ‘kelas menengah dan moderat’, Gerindo berusaha untuk menjalin hubungan dengan berbagai massa. Van der Plas menulis “ Bahwa, dalam sebuah lahan bersama relasi yang dibetuknya di Hindia-Belanda, ia meneruskan, membuat Gerindo secara ‘eksklusif merusak’, suatu perbedaan yang kontras dengan konstruksi Parindra.

Kita telah mengetahui (Bab III) bagaimana pemikiran Van der Plas tentang ‘relasi’ di Hindia-Belanda. Ia telah sejak lama tertarik dengan efek mengacaukan dari demokrasi liberal modern dalam kehidupan politik kaum pribumi Ia mewaspadai konsekuensi bagi siapapun yang mencapai kestabilan yang memadukan dua kekuatan memerintah elit perkotaan dan masa tradisional. Sebuah partai yang menolak untuk meraih dua kekuatan tersebut bersifat ‘konstruktif’. Salah satu yang secara sadar ia lakukan, tanpa ada yang tahu bagaiman kemodernenan dari program –programnya, adalah’ desktruktif’/ Dalam bahasa birokrasi pada saat itu, Gerindo bersalah karena ‘menciptakan perasaan’ (Stemmingverwekkerij) di antara yang mana perasaan itu tidak dapat dipercaya. “ Membuat sebuah “perasaan tentang kemerdekaan” sama saja dengan “ membuat sebuah perasaan melawan pemerintahan yang berkuasa.

Komitmen Amir pada pendidikan yang populer dan dunia pers muncul bertepatan dengan keinginan untuk ‘menciptakan perasaan’, untuk memunculkan kesadaran di antara sebuahbahaya masyarakat sebagai korban dalam modernitas. Ia percaya dengan kekuatan mitos untuk mengerakkan ketidakberdayaan. Para propagandis Gerindo memainkan peranan sebagai nabi, untuk menghadapi marginalisasi. Kebobrokan moral dalam rezim ini tidak pernah jelas darpiada ketika mereka melabelkan ‘ agitasi yang berbahaya’ sebagai kampanye oleh Amir yang mewakili Gerindi untuk mengobati populasi umum sebagai masyarakat kota moderen.

Pemerintah menyisakan kewaspadaan dari tanda-tanda Gerindo yang menjadi gaya yang semakin populer dan menularkannya kepada Parindra. Pada awal 1938 Parindra menawarkan dua dari tiga kursinya kepada Gerindo untuk pemilihan di Kota Surabaya, kekhawatiran yang tekonfirmasi. Van der Plas di dalam kereta menyusun sebuah proposal untuk melakukan usaha intimidasi yang mewaspadai Gerindo. Kewaspadaan akan adanya reaksi balik, tidak menemukannya di Jawa Timur, akan tetapi itu terjadi di Sumatera di mana juru bicara Gerindo lebih radikal. Dalam aksi represif melawan Gerindo, Amir setuju untuk mengekang radikalisme Gerindo di Medan. Hal ini menjadi tanda dari domestikisasiGerindo yang secara terpaksa disetujui.

Pada Mei 1940, Jerman menginvasi Belanda. Semua aktivitas politik diperintahkan untuk dibekukan di Hindia Belanda. Hampir semua ketakutan histeris dari sikap subversif dari lima kolumnis ditangkap oleh polisi intelejen. Gelombang penangkapan― baik yang dicurigai komunis, simpatisan pro-Jepang, dan simpatisan Jerman. Denga sebagian besar pemimpin Gerindo, Amir ditangkap pada Juni dengan tuduhan mendukung komunis, dengan cepat dengan dua kali penyergapan. Tujuh bulan kemudia rekannya di GAPI dan lawannya Thamrin juga ditangkap dengan tuduhan simpatisan Jepang dan meninggal dalam tawanan. Oleh karena sebuah salinan dari gerakan bawah tanah PKI Menara Merah, yang diproduksi di Batavia, ditemukan di rumah Amir. Polisi menemukan kemungkinan dari hubungan Amir, Wikana, Adam Malik, dan lainnya yang dapat membangkitkan PKI sejak 1936, tetapi, dengan sedikit bukti yang dapat dipercaya (Poeze 1982,-94, IV : 336, 348-350).

Berbagai intimidasi membuat politik menjadi semakin rumit, oleh karena itu juga memperburuk tekanan internal. Dalam Gerindo dirasakan perpecahan di antara advokasi aktivisme dan untuk perhatian. Pada saat itu Amir dicatat di antara bekas anggota. Dalan bulan-bulan pendudukan Jerman atas Belanda, Amir berpedapat bahwa GAPI harus melawan melalui aksi-aksi anti-fasis, tetapi ia mendapatkan sedikit dukungan.Penagkapannya dalam beberapa bulan berkutnya membuktikan ketepatan usulannya.

Tekanan yang sama terjadi di antara hubungan partai-partai. Dalam pemilihan di Batavia Gerindo terluka parah (sekali lagi) di tangan Parindra. Ketegangan antara Amir dari Gerindo dan Thamrin dari Parindra yang panjang dan laten, berhenti sejak penangkapan Amir. Walaupun ia tidak diangkat lama, pendukung Amir M. Tabarani meluncurkan sesuatu yang positif, publikasi yang luas tetapi tidak akurat pers yang menyerang Thamrin dan menjatuhkannya yang mendatangkan sikap defensif yang cepat dan cukup.

Pada Agustus 1940, Gerindo memproduksi sebuah dokumen yang menyudutkan dan menampilkan famplet. Pada akhir 1941 Ratu Langie, mingguan Nationale Commentarenmengatakan Gerindo sekarang lebih jinak daripada Parindra. Pada kongres terakhirnya menunjukkan sebuah kelesuan normal dari partai politik yang tidak berkarakter tidak berada dalam pemerintah. A.K. Gani meinggalkan Gerindo untuk pergi ke dunia film dan seni peran, Amir juga meninggalkan partai tersebut atau, tampaknya, dikeluarkan.

Setelah penagkapannya, Amir sekali lagi luput dari pandangan publik, tidak hanya di dalam GAPI (karena ia meninggalkan Gerindo dan pura-pura protes), tetapi juga dari Gerindo.Polisi yang menangkapnya segera memperingatkannya lebih awal dengan ancamanpenjara potensial selama lima tahun. Hal ini mungkin cukup untuk memaksa Amir menarik diri dari pandangan public pada saat itu. Akan tetapi, ia juga telah memerintahkan dari dalam partainya dengan elemen-elemen yang lebih berhati-hati.

Tanda-tanda Kebangkitan

Jika penolakan Van der Plas terhadap politik Gerindo yang secara salah mengasumsikan orang-orang Indonesia tidak dapat menjadi warga negara modern, ia benar menurut pemikiran Amir sesuai dengan apa yang ia. Jarak antara harapan yang populer dan realitas negara moderen sangat besar. Untuk memelihara itu kelihatannya dibutuhkan politik rezim pemerintah yang cocok. Hal ini membuat, dalam kenyataannya, kemustahilan untuk menyatukan peran kharismatik, perasaan untuk populer, dan legal-rasional, dan administrator.

Dua peran tersebut diarahkan ke Amir, dan ia mempunyai kesempatan untuk mengabungkan keduanya. Hasilnya adalah ia hidup dalam sebuah kenyataan yang terdiri dari dua tingkatan pada dua tahun terakhir sebelum invasi Jepang. Tingkat kegelapan tidak diragukan lagi sangat bersifat romantis., tetapi adalah sebuah kesalahan bila mengasumsikan berbagai gerakan bawah tanahnya hanya topeng belaka, dan tidak dipandang seirius. Ia bukan pribadi dengan pikiran yang terpecah (schizoprenik), maupun konspirator yang gemar menyindir.

Pada September 1940, bersamaan dengan pecahnya perang di Eropa dan intimidasi politik terhadap jaringan komunis, Amir mengambil sebuah tawaran dalam kedudukan senior dalam pelayanan masyarakat sipil. Tawaran itu datang dari pengikut neo-etis, Dr. H.J. van Mook, direktur dari Depertemen Urusan Ekonomi. Hal ini paling tidak telah menjadi bagian yang menganggu dari sebuah pengorbanan kebijakan yang mencekam terhadap tindakan-tindakan subversive kaum pribumi.

Persetujuannya terhadap tawaran itu, sangat kontradiktif dengan prinsip muda yang diikutinya, tetap menjadi hal yang biasa bagi kaum nasionalis yang kemudian, sangat menganggu bagi para pendukungnya. Pada saat itu ia mengorbankan wibawa kharismatisnya. Salah satu celaan yang ia pelajari dari ayah dan pamannya (sebenarnya saudara sepupunya), Dr. Moelia adalah menerima pergeseran dari politik kepada bidang pelayanan pemerintah.

Dalam arahan ekonom J.C.W. Kraemer, Amir menulis kajian tentang bahan dasar dan pemotongan pasar tunai, umumnya untuk jurnal Departemen Urusan Ekonomi. Kraemer menilai dirinya berjiwa intelektual dan seorang sosial-demokrat. Tidak seperti para pemuda pengikut Amir dan juga para aparat yang menilai peran publiknya, Kraemer melihat kharisma masa lampau dan memandangnya sebagai intelektual moderen :

Saya tidak melihat kemampuannya untuk mengorganisasi dalam dirinya, ia mempunyai sifat intelektual yang ekstrim yang menghentikan kemampuannya untuk bertindak. Ia juga dipengaruhi kepribadian yang kuat, yang memenangkan sifat fanatiknya […] Ini adalah defaut de ses qualities(kualitas), sebutan yang dihasilkan dari keinginan untuk melihat semuanya dari segala sudut.

Peralihan di antara masa pendudukan Jerman atas Belanda dan pendudukan Jepang atas Hindia-Belanda , perasaan hangat yang tidak umum terbangun di antara para intelektual Indonesia dan kaum kolonial Belanda yang memerah di Hindia karena invasi Jerman tersebut. Orang Belanda menyebut itu ‘ menjadi terikat karena sebuah takdir’(lotsverbondenheid). Kaum tua Indonesia diingatkan oleh penghargaan yang sementara mereka dapat dari pengalaman selama Perang Dunia I. Amir mengelola dua majalah kecil yang menyertakan orang-orang Indonesia dan para intelektual Belanda. Majalah yang pertama adalah Kritiek en Opbouw (Kritik dan Rekonstruksi) yang bersikulasi secara dinamis dan secara personal pada seorang sosialis D.M.G. Koch.

Amir hanya berkontribusi pada dua, sekolah-sekolah kaum nasionalis. Ia berharap hal ini dapat menciptakan sebuah prinsip dari kesatuan nasional, homogenitas ‘spiritual’ atau ‘ketuntasan’ yang tidak hanya ditemukan dalam masyarakat kolonial. Akan tetapi, norma-norma dari sekolah tersebut menanamkan sebuah pembaruan, tidak membuang tradisi, dan isi yang kognitif yang akan menjadi standar internasional (Sjarifoeddin, 1941 l dan 1941 n).

Majalah kedua adalah Semangat Baroe, disusun pada Desember 1940 untuk mengantikanZaman Baroe, mingguan Protestan yang diedit oleh saudara sepupu Amir, Goenoeng Moelia, nama Amir tercantum bersama Mulia pada bagian depan, dan juga staf pekerja CSV, Kees van Doorn, bekas ketua CSV Johannes Leimena, dan politikus konservatif CSV Notosoetarso. Fase ini merupakan masa paling dekat Amir dengan Partai Protestan CSV. Kalaupun ia tidak berkomitmen terhadap terbitan ini. Artikel yang dipublikasikannya kebanyakan daur ulang dari Kebangoenan dan Pelopor Gerindo.

Satu tahun setelah penangkapannya pada Juni 1940, ia tetap menundukkan kepalanya , mempelajari bidang ilmu ekonomi, seperti yang telah kita lihat. Pada pertengahan 1941 ia muncul kembali dalam dunia pers, dengan sebuah artikel tentang krisis yang melanda masyarakat Indonesia. Arah dari artikel-artikel tersebut membawanya berhubungan dengan lawan politiknya di dalam aparat pemerintahan. Pada saat itu kita cukup dapat melihat bahwa mereka disarankan untuk bekerja sama.

Amir membuat suatu aliran demokrasi yang mengklaimnya sebagai Negara moderen dalam sebagian warga negara Indonesia. Artikelnya yang pertama (Sjarifoeddin 1941a) mendukung sebuah memorandum dari GAPI kepada Komisi Visman pada Februari 1941, yang mengusulkan sebuah sistem parlementer untuk Indonesia. Amir memuji pidato Roosvelt pada bulan Maret tentang ‘empat kebebasan’ yang mendefinisikan penyebab demokrasi pada masa perang. Kejatuhan mendadak Perancis ke tangan Nazi, menurutnya merupakan pola dasar kejatuhan dari moral masyarakat. Dalam masa perang sekarang, ia menulis, musuh mengeksploitasi ketidakpuasaan ekonomi, tetapi dengan kealpaan kohesi moral., untuk memperkuat kelima kolumnis.

Makna terdalam dari pergerakan demokrasi Indonesia , Amir menulis, adalah untuk menciptakan kohesi nasional melalui partisipasi politik. Namun ketika―dalam sudut pandang depresi― adalah mustahil untuk memenuhi berbagai kebutuhan ekonomi dari kerugian, paling tidak izin dari sejumlah hak politik yang dapat menciptakan perasaan kesatuan moral untuk menghadapi dengan perang. Ia juga mendukung proposal Volksraadtentang sebuah milisi populer. Sebuah milisi melibatkan ‘kemoderenan, demokrasi’ yang mengesankan bahwa hanya warga Negara suatu bangsa yang dapat mempertanyakan keanggotaannya dalam supermasi pengorbanan. Dalam sebuah artikel serupa(Sjarifoedin 1941c), sebuah bagian yang dapat berkembang di masa depan berkaitan dengan pemikiran kemiliterannya, yang menjadi penting dalam kedudukan berikutnya sebagai Menteri Pertahanan dalam Negara Republik Indonesia.

Pada Juli 1941, Gubernur Jawa Barat Van der Plas pindah ke Batavia, dan mengumumkan bahwa ia akan memulai sebuah upaya propaganda besar anti-fasis dalam masyarakat Indonesia. Kesiapan ini mulai dengan ’penciptaan perasaan’ dalam masyarakat adalah sesuatu yang bertentangan dengan dirinya. Secara mendadak pemerintah siap untuk menerima argument kaum nasionalis untuk memperlakukan orang Indonesia sebagai lonjakan kewarganegaraan oleh keidealan moderen nasional yang mereka kenal untuk bertahan. Amir mengharapkan kebaikan Van der Plas (Sjarifoeddin 1941f).

Ketika itu, sekretaris Gubernur Jenderal, P.J.A. Idenburg menunjukkan persetujuan terhadap ide milisi setelah berbicara dengan bekas koleganya di Departemen Ekonomi, Amir Sjarifoeddin. Pada saat kemenangan Jepang tampaknya akan terjadi, ia membujuk Tjarda van Starkenbourgh Stachouwer untuk mengalokasikan sejumlah uang untuk sebuah gerakan anti-Jepang terselubung oleh orang-orang Indonesia setelah pendudukan. Van der Plas ditugaskan untuk mencari orang-orang Indonesia yang di maksud. Pemimpin dari kelompok ini adalah Amir, yang ia gambarkan sebagai ‘ dalam lingkaran Belanda adalah seorang figur yang terkenal baik’.

Tokoh lainnya adalah Soetijno Mangoenkoesomoe, adik Cipto yang respek terhadap idealisme tersebut. Van der Plas dua bulan sebelum kapitulasi mengadakan kunjungan ke seluruh Jawa untuk melihat figur-figur yang ‘kuat dan independen’. (Parlementaire Enquête-Commissie 1956, VIII c :1353). Pada faktanya organisasi ini belumlah siap ketika Jepang datang. Kertas kerja birokrasi yang berisi bukti pembayaran uang jatuh ke tangan Jepang, yang diikuti dengan penangkapan secara cepat orang-orang yang telah direkrut.

Frekuensi yang ditampilkan Amir dalam berbagai kesempatan mengindikasikan ia telah bekerjasama dengan Van der Plas sejak Agustus 1941. Ia sering mengutip tokoh sosialis Fabian, yang sejak 1940 telah mendapatkan perhatian khusus seputar pertanyaan-pertanyaan kolonial. Kutipan dari H.G. Wells dan Sidney dan Beatrice Webb menghujani berbagai pembicaraan , seperti yang ia sampaikan kepada pejabat perdagangan laut (Sjarifoeddin 1941k).

Pada September 1941, ia pernah berkata kepada radio pemerintah, menyerang tema tentang sebuah masyarakat tanpa kesatuan moral adalah sebuah masyarakat yang lemah pada masaa perang. Cina adalah sebuah contoh positif bagaimana kelompok-kelompok yang berbeda―pemerintah dan kelompok ‘merah’― dapat bekerjasama dalam menghadapi sebuah ancaman umum dari luar, dan arena itu meletakkan dasar yang lebih bagi masa depan demokrasi di Cina (sjarifoeddin 1941h).

Amir melihat Jepang sebagai sebuah ancaman sejati bagi seluruh masyarakat Indonesia tentang mimpi mereka terhadap pergerakan demokrasi. Rekan-rekan Tionghoanya dipengaruhinya untuk mendukung hal ini. “ini adalah perang kita”, kata Amir pada saat pengumuman perang setelah penyerangan Pearl Habour. Pesannya adalah : ‘lawan!’ (Sjarifoeddin1941o). Setelah pasukan Jepang menguasai pulau-pulau bagian luar banyak orang Indonesia yang menonjol mulai berlindung. Akan tetapi, Amir, dalam penyuntingan terakhir Pelopor Gerindo (Sjarifoeddin 1942b), tetap mencela berbagai tindakan Jepang sebagai aksi eksplosif yang fundamental dan mengajak masyarakat untuk berjuang mempertahankan Negara dari serangan ‘musuh’. Sebaliknya, Ratu Langie menulis dalam Semangat Parindra : “antitesis dalam sistem filosofi-moral dan filosofi-politik Eropa barat membuat impresi yang tidak subjektif terhadap kita, sejak kita secara matang beralasan untuk membentuk system kita sendiri (Nationale Commentaren, 7-11-1939, 1758-60).

Agama, dalam pada itu, tetap penting bagi Amir. Artikel pertamanya setelah masuk dalam Departemen Urusan Ekonomi ditampilkan dalam terbitan Protestan Semangat Baroe. In adalah kontribusi yang sesungguhnya dan bagian yang paling teologis dari yang pernah ia tulis. Hal ini mendemonstrasikan hubungan, sebagaimana ia melihat, antara agama dan politik.

Hubungan ini tidak dapat dilakukan dengan memelihara solidaritas tradisional, yang tentu saja tanpa kegembiraan institusional dan segala hal moralitas individu Kierkegaardian dalam kondisi yang moderen. Ia mengambarkan sebuah transisi sosiologis dari tradisi lokal menuju modernitas global. Transisi ini menghasilkan sebuah perasaan moral yang rumit, tulisnya. Sialnya, para pemuda melihat arahan yang tepat untuk membawa golongan tua yang kemungkinan akan kembali pada konsevatisme masa lalu, atau bergerak pada pragmatisme yang tanpa prinsip. Agama, pada sisi lain , semua agama, dapat menyediakan otoritas moral untuk mengarahkan mereka pada individu-individu yang kuat : masyarakat yang mengetahui jalan di seputar isu-isu moderen. Feminisme, demokrasi melawan fasisme, Kant dan Hegel, musik moderen, serikat buruh, adalah contoh-contoh dari isu-isu yang ia pikirkan. Ia menyebut gereja-gereja Indonesia memberikan watak mudanya sebuah kepemimpinan yang lain.

Artikel ini menampilkan perhatian pada misionaris Belanda J. Verkuyl, seorang pengagum Kraemer, yang kemudian mengundang Amir untuk menekankan perhatiannya pada misionaris lainnya dalam sebuah kongres yang ia organisasikan di Karangpandan, dekat Solo, pada Oktober 1941. Konferensi itu diketuai oleh Gonoeng Moelia dan dihadiri oleh 150 misionaris, para mahasiswa teologi, dan tamu-tamu ‘politis’ yang sengaja diundang.

Konferensi ini menghasilkan kesepakatan dengan cakupan seputar masalah-masalah misionaris. Di antara mereka adalah anggota dari Partai Kristen. Diskusi dalam topik ini dipimpin oleh pengacara aristokratik Solo, Soewidji, yang berbicara dalam nada yang tekekang tentang kepentingan orang-orang Kristen untuk tidak menghindari politik. Pada saat itu, Amir berseru bahwa ia tidak mengerti tentang lemahnya keinginan berkaitan dengan isu politik yang didiskusikan. Ia puas karena para peserta dengan sebuah catatan yang memuaskan tentang pergerakan nasional Indonesia. Hal itu, ia berkata, adalah hasil dari pertentangan antara Timur dan Barat yang dalam kenyataannya menyadarkan Timur.

Bagaimanapun, Amir meneruskan, ia merasa bangkitnya perhatian terhadap lemahnya transeden ideologi pergerakan kaum nasionalis sekular. Klaim transeden yang ia lakukan, dalam pada itu, adalah kepada Muslim yang, dalam asosiasi Islam MIAI (Madjelis Islamil a’ Laa Indonesia) dan partai politik PSII, bekerja dalam negara Islam. Amir kemudian menanyakan kepada gereja-gereja untuk menyediakan lebih banyak kepemimpinan moral, seperti dalam isu-isu kemerdekaan atau kata hati, kebenaran dan kesalahan demokrasi, dan pekerja wanita dan anak-anak. Ia menutup dengan menyampaikan sebuah pertanyaan berkaitan dengan visi sosial Kristen seperti kebutuhan akan sebuah partai yang terpisah, atau ‘berbagai prinsip’ berfungsi bagi mereka dalam partai-partai sekular yang ada. Daya tarik nasionalis dalam pribadinya adalah ‘mutlak’, ia menambahkan. Di antara berbagai masukan yang tergesa-gesa adalah penujukkan Verkuyl terhadap dirinya sebagai alternatif pertama.

Dalam lingkaran kaum Kristen pribumi, eksplorasi tentatif Amir tentang partai politik Kristen menciptakan ketertarikan yang luar biasa. Mereka berpikir dirinya adalah harga yang pantas, dalam akses menuju legitimasi nasionalis. Ketika sebelum Konferensi Karangpandan dalam kelompok Semangat Baroe, ia setuju untuk menjadi penasehat dalam komite ekstrim yang tentatif untuk mengikat bersama partai politik Kristen dan badan-badan lainnya, yang kemudian diubah menjadi PKPI. Pada Desember, Semangat Baroe mulai menampilkan berbagai saran yang dengannya dapat menjadi media partai politik Kristen yang telah diinginkan dan direncanakan Amir., yang mana PKPI merupakan embrionya.

Krisis Legitimasi

Seperti yang telah diprediksi, penerimaan Amir terhadap bahasa kelas menegah kolonial, walaupun ia termasuk dalam sayap progresif, menghasilkan sebuah reaksi negatif dalam lingkaran nasionalis. Reaksi itu difokuskan pada sisi Kristianitasnya. Sifat Protestan Amir sangat terkenal. Ia secara teratur berkhotbah dalam mimbar gereja Batak terbesar di Batavia, di Kernolong. Pada Februari 1940 Abikoesno Tjkrosoejoso, ketua Partai Islam PSI, mengatakan kepada seorang pejabat pemerintah bahwa Amir berjanji akan bergabung dengan dirinya menurut “jalannya sendiri’ dalam sebuah sebuah ketaatan religius untuk perubahan politik. Pemimpin Katolik, Kasimo, yang juga anggota GAPI, dijanjikan hal yang sama. Hal ini diperkirakan menjadi awal dari sebuah ‘ mobilisasi spiritual’ Abikusno yang diinisiasikan dalam GAPI untuk sebuah parlemen Indonesia. Akan tetapi, Amir tidak pernah diidentifikasikan sebagai anggota partai politik Kristen.

Alasan yang mungkin, berkaitan dengan pengabaian kampung halamannya Tanah Batak yang tidak mengetahui bahwa ia adalah seorang Kristen. Sebuah bagian yang bersifat fanatik dalam Semangat Baroe kemudian menempatkan Amir dalam identitas CSP, bersama Gonoeng Moelia, Soewidji, dan Notosoetarso, sebagai ‘pahlawan-pahlawan Kristen’.

Dalam diskusi tentatif di Karangpandan, laporan media pers tentang konferensi itu menyebabkan Amir berada dalam banyak masalah. Hal ini menyediakan kesempatan golongan Islam dan sekular dari gerakan nasionalis untuk menjatuhkan hukuman. Keduanya menuduh deklarasi pendiriannya. Para aktivis Islam mendemostrasikan dengan senang hati berkatian dengan politik populis di Indonesia pada saat tensi dari gerakan yang dikategorikan primordial religius (aliran politik) oleh teman-teman nasionalis sekularnya yang menuduh dirinya mengabaikan kehati-hatian perannya.

Java Bode (Roeping 1941) mencirikan penyataan Amir di Karangpandan, yaitu ‘ Kitasebagai orang Kristen harus mempunyai latar belakang sendiri, bukan hanya tekanan dari golongan Islam dan Nasionalis’. Laporan pertama yang ditampilkan Java Bode dalam pers nasionalis adalah sosok Ratu Langie dalam majalahnya Nationale Commentaren (1-11, 1941, p. 3920, 15-11, pp 4014). Panggilan untuk sebuah partai politik Kristen untuk melawan tekanan dari golongan Muslim dan Nasionalisme, ia mengarisbawahi, adalah sebuah suara baru yang menandakan sebauh penafsiran baru yang perlu. Dua minggu kemudian, ia bergabung dalam kelompok terhukum Amir yang meregresi secara nyata antitesis agama. Keruntuhan evolusi selama 13 tahun ke arah ideologi sekular demokrasi.

Sang kucing kemudian mengatur para merpati melalui bagian dari golongan Abikoesno Tjokrosoejono ( dari mobilitas spiritual). Hal ini muncul pada sebuah periode ketika tensi di antara tiga partai dalam GAPI, PSII yang menjaga jarak dengan perseteruan Parindra dan Gerindo. Abikoesno menyarankan untuk membawa dua bagian dari laporan konferensi ketika Amir ikut berdiskusi dengan politik Kristen dan ketika (Amir tidak diundang) diskusi tentang misi Kristen terhadap Islam. Hasil yang ditampilkan adalah misi Kristen, gagal karena metode konvensionalnya untuk memenangkan perubahan, yang sekarang berkiatan dengan peluncuran sebuah politik yang menyerang Islam.

Amir sebelumnya telah mendeklarasikan “100 % seorang nasionalis”, sekarang hadir hanya sebagai sebuah instrumen dari misionaris Belanda, ‘ hanya menunggu untuk atau mungkin telah dalam posis untuk menginstrusikan penyususnan sebauh partai politik Kristen’. Abikoesno tidak berkeberatan untuk sebuah partai Kristen nasinalis, tetapi menolak sebuah arahan melawan ‘tekanan’ Islam dan Nasionalis. Ia berharap respon Islam dari ulama yang dapat menjaga politik tetap bersih dan tetap bersemangat – organisasi-organisasi yang memfasilitas itu telah tersedia.

Berbagai reaksi bermunculan. Seorang propagandis pergerakan untuk reformasi Islam, Mohammad Natsir, dalam artikelnya pada 1939 mengatakan Amir seorang Kristen (yang secara salah disebutnya sebagai seorang Katolik), Kasimo, dan Moelia dapat dengan mudah mengambilalih inti dari gerkaan Islam nasional karena mereka cerdas. Akan tetapi, hal itu tidak pantas dan tidak dizinkan secara agama (halal) pada setiap orang yang menjadi pemimpin.

Ketika Natsir menyusun lagi isu dalam istilah dua kategori agama besar yang homogen, ia mengarahkan debat dalam sebuah jalur yang dikenal. Hak itu sekarang menjadi pola lain dalam rivalitas panjang antara Islam dan sayap sekular Nasionalis dalam pergerakan. Sipahoetar, dalam menyikapi serangan terhadap Amir, yang pada faktanya adalah sebuah serangan terhadap ideologi sekular nasionalisme Gerindo, menanggapi bahwa Natsir adalah seorang fanatik berbahaya yang bersalah yang menyarankan pergerakan nasional dikendalikan oleh agama malahan ekonomi. Amir dalam perjalannya menuntut orang-orang seperti Amir, yang melakukan infliritasi prinsip kristianitasnya dalam pergerkaan nasionalis, dan tokoh-tokoh lainnya seperti Kasimo dan Moelia yang dalam Volksraadhanya sedikit menunjukkan solidaritasnya terhadap hal tersebut, tidak hanya berbahaya bagi Islam tetapi juga pergerakan.

Bagaimanapun, penyalahgunaan pandangan Amir dari arahan sekular berjalan baik. Bersama Moelia dalam satu dekade awal, banyak yang mengasumsikan bahwa politik Kristen telah menjadi politik yang mapan dan oleh karena itu sebuah penghiantan terhadap oposisi nasionalis. Amir sejak awal menolak untuk memainkan peran baru dalam Gerindo, yang salah seorang menulis ( namun tidak akurat), dan masyarakat enggan melihat sensivitas baruyna sebagai pegawai negeri. Ia juga secara tiba-tiba memutuskan kesiapan dirinya untuk merintis, Partai Kristen.

Sebuah artikel anonim di Pemandangan, menolak untuk memercayai bahwa Amir telah dikhianati para teman nasionalisnya di Gerindo, yang mungkin hanya sebuah penafsiran.

Tentu saja tidak ada berbagai alasan yang mendasar mengapa orang-orang Kristen tidak dapat menjadi seorang nasionalis―yang telah dibuktikan oleh sosok Chiang Kai-shek, atau partisipasi PPKI dalam GAPI. Akan tetapi, Kristianitas di Indonesia diasosiasikan sangat dekat dengan kaum colonial yang banyak di antaranya tidak dapat melihat berbagai hubungan antara kata ‘Kristen’ dan ‘Nasionalis’. Orang-oran Indonesia yang beragama Kristen seringkali berusaha untuk mendapatkan hak-hak istimewa untuk mendapat status warga Negara Belanda. Sebagian besar wilayah kantong Kristen pada umumnya menolak nasionalisme Indonesia, hal itu terbukti, dan beberap figur politik Kristen seringkali berada di golongan kanan daripada golongan kiri dalam spektrum politik.

Tanpa keraguan untuk membantu, editor Semangat Baroe, R. Soedarsono Thomas secara keras membuat berbagai hal mudah ketika ia berkata bahwa sebuah serangan ke pada Amir adalah serangan terhadap komunitas Kristen (Semangat Baroe, 15-11-1941). Ia mengakui bahwa orang-orang Kristen loyal terhadap pemerintah, dan karena pengaruh roh kudus membuat mereka beradab dan kooperatif dibandingkan konfrontatif. Akan tetapi, hal itu tidak berarti orang-orang Kristen tidak mencintai negaranya. Sangat beruntung konfirmasi dari golongan loyal dan stereotip priyayi tidak menarik perhatian media pers yang utama.

Hal yang menyakitkan bagi Amir adalah sebuah pendapat panjang publik bersama pengagum mudanya, A.M. Sipahoetar, bekas editor Toejoean Rakjat yang dilindunginyadari Natsir di awal. Tentu saja, beberapa bulan sebelumnya Sipahoetar disertakan Amir dalam seri empat bagian ‘ para pemimpin Indonesia’ dalam Keng Po (26-8-1941). Di sini ia digambarkan Amir sebagai seorang yang penuh harapan dan berkepribadian rendah hati, tanpa musuh-musuh politik, dan dibandingkan dengan Soekarno sebagai pembicaradengan sifat sederhana sebagai pemimpin politik. Akan tetapi, ia mengambarkan Amir sebagai orang yang lemah (Kebangoenan, 7-,8-, dan 13-11-1941). Amir, ia menulis, berada di luar kegelisahan dalam karier barunya sebagai pegawai pemerintah, telah mengabaikan Gerindo dalam tujuan untuk melepaskan diri ke dalam poltik Kristen yang aman. Sipahoetar mengatakan, ia sendiri telah mempelajari bahwa Kristenisitas adalah tentang pengorbanan, tetapi amir tidak merasakan itu. Sebuah catatan editorial meminta banyak komentar untuk menguatkan hal tersebut, mungkin hal tersebut sedikit ditujukan kepada Amir, masyarakat diarahkan untuk merasakan ketidakpuasan dari penjelasan tersebut.

Dalam pergelutannya dengan kehidupan politik, Amir mengeluarkan sebuah paham politik dengan harapan dapat melucuti kritik-kritik terhadap dirinya (Sjarifoeddin 1941m). Ia melakukan ini oleh karena tekanan, ramalan dalam Kristianitasnya, dan hubungannya dengan alasan nasionalisme. Ia mendeklarasikan bahwa Gerindo menyisakan kecocokan dengan pendiriannya, dan kepercayaan akan menjadi miliknya ketika Gerindo tidak ada lagi. Ia juga percaya ada sebuah hal sebagai seorang penganut ideologi politik Kristen, dan ia merasa ada sebuah tugas di antara ‘teman-teman seagama’ ketika hal tersebut tidak menghasilkan sebuah partai politik. Apa yang dapat terlihat sebagai sebuah ideologi? Untuk menjawab, ia mengutip dari pernyataan yang seperti berasal dari semacam buku Iman Sosial dari Amerika :

Kembalikan kekuasaan Tuhan, tegakkan hukum, pengusahaan kesempatan yang sama untuk semua, gunakan buah-buah dunia sebagai pelayanan yang benar untuk keuntungan yang menyeluruh dalam komunitas‑ yang merupakan pertobatan, sebagai nabi dan khotbah Yesus itu, dan sebagaimana komunitas Kristen pertama mempraktekkannya.

Tuduhan Sipahoetar yang pengecut, Amir beretorika (Kebangoenan. 14-11-1941) bahwa dalam sepuluh tahun keterlibatannya dalam pergerakan nasional ia sudah mendapatkan tiga kali tuduhan tentang hal itu. Tuduhan ini adalah yang keempat. Ketika ia menjadi orang Kristen, beberapa rekan Partindonya mengatakan ‘ia ditinggalkan secara pelan-pelan dan menyebrang kepada Belanda’. Ketika ia keluar dari penjara pada 1935 dan telah diingatkan untuk menjauhi kegiatan politik, beberapa mengatakan ia telah menandatangani sebuah dokumen yang menjanjikan keabstainan itu. Ketika ia pindah ke Sukabumi segera setelah membentuk Gerindo pada 1937, beberapa oran berkata ia melarikan diri. Ia tidak bertanggungjawab atas kepemimpinan di Gerindo tidak lebih dari setahun yang lalu., namun ia tetap melakukan pekerjaan yang penting. Tidak seperti Sipahoetar, ia tidak mau omong besar terhadap kepercayaan Kristianinya.―hal ini menjadi urusan Tuhan sendiri. Akan tetapi, keterlibatannya dalam pergerakan nasional muncul karena komitmen Kristianinya. ‘Tanpa dasar’ itu, ia menyimpulkan, ‘ saya tidak akan terjun ke dunia politik’.

Verkuyl kemudian mengingatkan bahwa Amir pernah menulis, pada waktu itu :

Tidak pernah saya nyatakan bagaimana di tengah-tengah tangisan di Gabbatha kekacauan selalu memberikan pilihannya kepada beberapa Barabas atau seseorang lain yang dibawa oleh spirit laki-laki dari Nasaret. Tidak pernah saya mengetahui bagaimana keindahan menjadi seorang Kristen di tengah-tengah segala pencobaan (Verkuyl 1983 :181).

Pertukaran yang berikut berlanjut pada kisaran kecurigaan bahwa Kristianitas Amir adalah sebuah bagian dari perjanjian dengan pihak kolonial. Berbagai bukti dikemukakan untuk memperkirakan keuntuhan moral di bawah hukuman Boven Digul―ia sekarang berkata di radio pemerintah berkaitan dengan akibat dari perang, dan pimpinan pemerintah antusias terhadap dirinya sebagai ‘pemimpin masa depan’. Sipahoetar menyebut Amir sangat mudah dipengaruhi oleh muslihat musuh, mempertimbangkan kepentingan duniawi untuk anak dan istrinya. Amir hanya merespon bahwa seruan Sipahoetar munafik dan provokatif, ia menambahkan ‘ Mari kita lihat bagaimana kita bertingkah di masa depan’.

Banyak penghiantan yang ditujukan pada Amir dilakukan oleh teman-temannya dari Gerindo. Pada 30 November, sekalipun Amir hanya seorang anggota biasa, para anggota eksekutif mengadakan pertemuan dalam siding paripurna untuk mendengar keputusanpengeluaran dirinya. Dengan dilengkapi oleh transkripsi Verkuyl dalam sebuah sesi di Karangpandan, ia meyakinkan mereka berkaitan dengan kalimat kontroversial dalam Java Bode tentang politik Islam yang diberitakan secara salah. Ia menjelaskan lagi perhatiannya tentang kurangnya unsur transendental dalam pergerakan sekular, ancaman dari gagasan negara Islam, dan kemungkinan dirinya untuk mendukungsebuah Partai Kristen untuk berdiri ‘ di samping’ berbagai organisasi nasionalis lainnya (Semangat Baroe, 6-12-1941)

Di samping penyimpangan terhadap mistisme, penjelasan yang diberikan rupanya memuaskan. Editor Kebangoenan Jahja mengatakan setelah pertemuan Abikoesno menyakinkan semua orang bahwa Amir adalah ‘penghianat dalam pergerakan nasional’. Gerindo sendiri sekarang memutuskan tidak adalah kasus yang menetang Amir. Pers ‘ kulit putih’ telah menyesatkan semua orang. Ia kemudian menambahkan,untuk keuntungan dari siapapun yang bertanya-tanya mengapa dalam kasus ini Amir tidak berada dalam badan eksekutif Gerindo : ‘ Amir Sjarifoeddin tidak melarikan diri dari pergerakan. Tentu saja, kegiatannya, tidak tampak seperti sebelumnya, tetapi secara keseluruhan tidak menurun’ (Kebangoenan, 3-12-1941).

Pernyataan akhir yang membingungkan, yang dicetak tebal, dibuat hanya dengan sedikit kejelasan dari penjelasan yang banyak dari masyarakat mendatanginya. Hal ini telah menandai sebuah petunjuk bahwa Amir sekarang lebih banyak beraktifivitas secara tersembunyi daripada bekerja secara publik. Hal ini tampaknya benar.

Seperti hal yang dilakukan oleh para intelktual nasionalis lainnya, komunisme memesona Amir. Orang-orang Eropa yang mengetahuinya bertanya-tanya tentang obesesinya dalam politik dan Marxisme, pembedaan yang lemah dalam pemikiran mereka. Soewarsih Djodjopoespito mengingatkan pertanyaan yang sama dengan mentornya E. du Perron :

Ia tidak dapat mengerti mengapa kami hidup semata-mata untuk politik , kami hanya membaca politik, marksisme, dan sejarah, dan ekonomi, menuangkannya dalam sastra {…}. Tentu saja, hal itu hanya dalam dunia barat yang mengklaim ketertarikannya, tetapi dengan itu kami menjadi tidak universal ; secara umum apapun karakter sosialis atau Marksis, yang kami pelajari, dan apapun yang terjadi di Rusia-Soviet, kami perhatikan. Kemungkinan pada saat ini hanya sedikit masyarakat yang tidak romantis, tetapi nasionalis feodal […], orang yang memainkan gamelan, berjoget, atau memainkan wayang orang (Sutherland, 1968 :114).

Van Doorn dan Kraemer dari Pergerakan Pelajar Kristen sering mengekspresikan rasa frustasi yang sama tentang nasionalisme Asia. Kraemer menulis tentang ‘ masyarakat yang tidak normal’, di mana ‘ segala hal terasa diarahkan oleh faktor politik’ (Rauws et. al. 1935 :86).

Banyak orang Protestan, yang kontras denga orang-orang Katolik, dipesonakan oleh persamaan antara komunisme primitif dan masa Kristen awal. Dengan disiplin doktrin bebas yang mengizinkan seorang Protestan mencari kepastian dan komitmen yang total, seperti dilakukan oleh orang-orang luar biasa dengan akses pada keilahian.

Petualangan Amir dengan komunisme romatik ditemukan dalam sedikit penerimaan dalam historiografi Indonesia selanjutnya. T.B. Simatupang, dikenal sebagai sosok paling berpengaruh dalam menafsirkan sejarah politik Kristen, mengambarkan hal ini tidak seperti Kristus yang pemberani tetapi kurang pengetahuan teologi. “ Seberapa serius ia mempertimbangkan reaksinya tehadap ideologi dan iman?’, katanya. Amir Sjarifoeddim , L.M. Sitorus (anggota Partai Sosialis), B.O. Hutapea (teoritikus PKI setelah perang yang meninggal pada 1968), tentu saja sangat dekat dengan Simatupang, semuanya adalah orang Kristen yang, ia katakan, menajdi ‘korban-korban’ dari mimpi sosialis.

Elit intelektual termasuk Amir di dalamnya menghadapi keadaan yang menyulitkan. Pada satu sisi meletakkan suatu kemajuan yang ditawarkan oleh kontrol teknik tetapi melemahkan legitimasi moral. Pada alur romantik yang lain dari legitimasi yang tinggi antara masa besar masyarakat Indonesia, tetapi dipasangkan oleh marginalisasi institusi yang menyakitkan. Pembagian yang tajam antara elit pemerintahan moderen dan masa tradisional yang termaginalisasi memperburuk tekanan itu.

Dalam beberapa kesempatan Amir mengabaikan kharismanya karena menjadi seorang admnisitatur yang bertangungjawab (setelah bergabung dalam Departemen UrusanEkonomi dan muncul dalam iklan radio pemerintah), ia kecewa karena pada pujian terhadap dirinya dan dirinya sendiri. Hubungan Amir dengan jaringan bawah tanah memberi kesempatan untuk mempertahankan kepercayaanya sebagai tokoh yang populer dan keinginannya untuk bekerjasama.

Membaca sudah sangat umum pada masa awal Indonesia, yang mana pada masa sebelum perang aktivitas komunis brsumber pada Stalin, seperti Harry Poeze (1984) dan Jaques Leclerc telah tunjukkan, bersifat ahistoris. Leclerc )1986a :75) menulis bahwa PNI, Partindo, dan Gerindo’ semua bergerak pada arah yang sama, yang mereprestasikan gerakan illegal adalah PKI […]. [PKI adalah] salah satu gerakan penuh perasaan dan berkesistensi, dalam batas yang tidak kentara’. Akan tetapi, PKI bukan merupakan organisasi revolusinoner yang ketat, banyak para anggota inteletualnya berusahamenekankan gambaran tersebut. Anton Lucas (1986 :3-13) mendaftar aktivis Partindo dan Gerindo diduga aktif dalam gerkan berdasar PKI di Surabaya sebelum masa pendudukan Jepang.

Setelah pemberontakan 1926-1927, PKI telah ditumpas. Yang pasti, Muso bekerja secara tersembunyi di Surabaya pada pertengahan 1935 sampai pertengahan 1936 dengan tujuan menyegarkan organisasi komunis yang diarahkan dari Moskow (PKI Muda atau PKI ilegal). Akan tetapi, hal tersebut menjadi pertimbangan golongan non-operasional kiri sampai setelah ia pergi, dan kemudian secara cepat diteliti dan dibangkitkan pada Februari 1937. Atas inisiatif Muso, hanya Pamoedji, editor Koran Surabaya Indonesia Berdjuang,yang terhindar dari pengasingan. Ia memesona sejumlah aktivis muda dalma organisasi kecil yang bersifat rahasia. Di antara mereka adalah Wikana dari Gerindo dan Siauw Tjhan dari Partai Tionghoa Indonesia. Gerindo memasukkan sejumlah simpatisan dari PARI (Partai Republik Indonesia), organisasi nasionalis komunis Tan Malaka yang secara intesif bertentangan dengan Muso. Banyak simpatisan dari PARI tidak sadar akan rivalitas tersebut.

Berdasarkan sejarah lisan, Amir ‘bergabung’ dengan PKI illegal melalui seorang aktivis Muda Jawa Timur Widarta, pengikut Pamoedji, pada kongres Gerindo pertama, Juli 1939 (Leclcrec 1993 :33) Poeze (1984 :169) menunjukkan bahwa Amir tidak berada dalam ‘lingkaran dalam’. Bagaimanapun, yang lebih penting, Leclcrec menulis :

Kami tidak mengetahui ‘partai’ apa― dan di atas itu, sesuatu yang ilegal― pada saat itu, atau bagaimana batasan yang jelas dari partai itu, apa arti dari keanggotannya, atau bagaimana seorang memandang yang lainnya yang terlibat. Kami tidak mengatauhi pada 1940 Partai Komunis semacam apa itu, atau keseluruhan organisasinya secara persisi dan efektif dapripada jaringan bebas dari para simpatisan, ingatan dari pemberontakan 1926, atau nama lain dari yang disebut ‘Gerakan Anti Fasis” (Gerakan Nati Fasis atau Geraf).

Hal ini adalah jaringan bebas dari afiliasi Gerindo dan aktivis PKI ilegal, yang berpusat di Jakarta, yang Amir jalankan beberapa hari sebelum pendudukan Jepang. Ia menawarkan kepada mereka sebagian dari uang sejumlah 25.000 gulden yang diberikan oleh Idenburg, dan mereka gunakan itu untuk menjalankan terbitan PKI Menara Merah.

Simpulan

Amir Sjarifoeddin mencari bentuk baru dari solidaritas sosial yang apat memberikan tenaga lebih daripada solidaritas komunal atas budaya dan genealogis yang diserukan oleh yang lainnya. Mereka terbuka, berorientasi pada bentuk solidaritas masa depan. Kristianitas adalah faktor penting dari Amir sebagai sumber dari kekuatan pribadinya. Pada masa muda ynag penuh romantisme sebelum ia dipenjara, pandangan religiusnya adalah sektarian ( dalam Grup Alkitab Schepper, dan di Kramat 106). Agamanya adalah sesuatu yang misterius. Hubungan dengan kharisma politik sangat intim, sebagian besar tersembunyi dari perhatian publik. Hal ini tampaknya tidak berfungsi sebagai perekat sosial. Kristianitas merupakan kunci utama dari identitiasnya ― terciptanya pengalaman ‘Luther Muda’. Hanya secara tidak langsung, berdasarkan pengalamannya, hal itu terelasi dengan kekuatan solidaritas ―penciptaan mitos.

Tiga faktor yang membentuk peran politiknya sejak berbagai fase yang dilewatinya. Pertama adalah lokasi sosial. Seperti semua tokoh elit nasionalis, Amir Sjarifoeddin adalah sosok intelektual kelas menengah yang moderen. Lebih dari semuanya, ia telah berkomitmen untuk menjadi panutan moderen dari pencerahan, hukum alam yang asli, norma-norma, dan potensial. Pendirian politiknya adalah ‘moderen’ yang memiliki harapan dan berorientasi masa depan. Sejak kampanyenya untuk menyertakan golongan Tionghoa dalam Gerindo berhasil, mereka tidak lagi mengurusi masalah etnisitas, juga tidak lagi bernostalgia dengan tradisionalitas. Ia melihat dasar pemuda bukan sebagai pemberontak, tetapi warga Negara yang potensial, diarahkan pada idealisme yang sama dan dibawa pada pengendalian diri yang sama dan kepercayaan diri dalam dasar kebenaran pada Negara moderen yang ia maksudkan.

Faktor kedua adalah jarak antara kelas menegah dan masyarakat Indonesia. Generasi muda perkotaan pada akhir 1920-an dan awal 1930-an, yang melihat diri mereka berelasi dengan masyarakat sebagai pars prototo (mewakili), tidak melihat Amir sebagai model dari warganegara, tetapi pahlawan yang kharismatis. Peran ini lebih banyak diciptakan pada masa budaya anarkis gerakan pemuda yang mana Amir ada di dalamnya.Kontaknya dengan mereka selalu dalam bentuk dominasi kharismatis . Para pemimpin kharismatis kebanyakan berada dalam tekanan besar untuk berbuat sesuai dengan janji mereka daripada figur otoritas lainnya. Mereka harus mempercayai bahwa Tuhan telah mengirim mereka, dan bahwa Tuhan berada dalam pihak mereka. Tekanan itu juga banyak mendera Amir.

Ia menderita karena pendiriannya, walau kharismanya dapat diterima. Akan tetapi, walaupun ia menampilkan perwujudan yang menjanjikan dari pendiriannya, hal itu telah terkikis dan ia dituduh sebagai seorang pengecut atau penghianat. Secara alami ― dalam pandangan yang tidak kharismatis dalam Kristianitas Kasimo dan Gonoeng Moelia―Kristianitasnya seringkali ditafsirkan hanya sebagai kompromi dari pendiriannya. Sehubungan dengan itu berbagai elemen primordial dalam pergerakan nasional, terlihat ketika Natsir mencoba menyingkirkan Amir dalam kepemimpinan golongan nasionalis oleh karena agamanya.

Ketiga adalah lingkungan otoriter dari pemerintah kolonial. Secara keseluruhan, pendirian kolonial tidak melihat dirinya sebagai model seorang warga negara. Berlakunya politik ortodoks membuat hal masyarakat mengalami retradisionalisasi. Pembinaan mereka sebagai warga Negara tampaknya hanya memancing aksi-aksi yang represif. Ia ditangkap pada Desember 1933 karena ‘menciptakan perasaan’ di antara mereka. Hanya pembelaan khusus yang mampu menyelamatkannya dari hukuman pengasingan.

Berbagai elemen neo-etis dalam pendiriannya memberikan dirinya berbagai kesempatan untuk mempraktekkan metode-metode moderen, khususnya (pada masa Perang Dunia I) di bawah ancaman perang (partisipasi Gerindo dalam pemilihan, Urusan Ekonomi, dan siaran radio). Akan tetapi, berbagai kesempatan itu sangat terbatas. Mereka gagal untuk mengompensasikan hilangnya status kharismatis, jika marginalisasi pemimpin politik, dan hilangnya kesatuan moral yang telah diusahakan oleh Amir. Legitimasi kejam yang berjarak, karakterisasi dari setiap rezim otoriter, melatih dirinya untuk memanikan peran kharismatiknya secara efektif , dengan tindakan yang perlahan. Hal ini membawa dirinya kemudian dalam hidup yang keras dan penuh bencana, dari sebuah organisasi yang berperan dalam pemerintahan pada kharsimatik dan peran subversifnya sebagai oposisi.

Tamat.

Tulisan ini diterjemahkan dari karya Gerry van Klinken yang berjudul Amir Sjarifoeddin and Nationalist Charisma, yang merupakan salah satu bab dalam bukuMinorities, Modernity, and The Emerging Nation ; Christian in Indonesia, a Biographical Approach
Artikel ini dikutip dari: http://teguhmanurung.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s